Thursday, July 11, 2013

Wahyu di Pewayangan

Assalamu'alaikum Wr Wb
Alhamdulillahirobbil alamin.
Wassholatu Wassalamu 'ala ashrofil anbiya' i wal mursalin, sayyidina Muhammadin Wa'ala alihi Washohbihi ajma'in. Ama ba'du.
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena limpahan karunianya.
Shalawat serta salam kepada Rasulullah Muhammmad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh
pengikutnya.


Salam sejahtera bagi kita semua.

Mohon maaf sebelumnya kepada para alim ulama semua.
Tulisan ini terutama untuk diri saya pribadi. Sekiranya ada yang berkenan, penulis berterima kasih sekali. Jika ada perbedaan pendapat, mohon maaf sebelumnya.

Secara garis besar, tiga jenis wahyu yang diperebutkan dalam pewayangan:

  1. Wahyu Pamong: untuk mengayomi dan memimpin di lingkungan kecil
  2. Wahyu Pendito: untuk mengayomi dan memimpin seluruh umat
  3. Wahyu Satrio: untuk membela kebenaran
Wahyu pamong, jika sudah kental dan kuat menjadi Wahyu Pendito.

Wahyu Pamong dimiliki para kepala desa, carik, tumenggung dan raja- raja kecil.
Wahyu Pendito dimiliki resi- resi dan para pendito.
Wahyu Satrio dimiliki para kesatria: Rama, Pandawa, dll.

Wahyu ini tidak boleh diminta, tetapi harus digolei (dicari).
Sesuai hadist:

Al Abbas, paman Nabi, meminta kepada Nabi Saw. Untuk 
mengangkatnya sebagai pemimpin, maka Nabi Saw. Menjawab seraya berkata :

انا والله لا نولى هذا الأمر أحدا ىسأله او أحدا ىحرص علىه

 “ Sesungguhnya aku, demi Allah, tidak memberikan urusan ini kepada 
seseorang yang memintanya atau seseorang yang menginginkannya.”

Dicari disini adalah ditunjukkan dengan perbuatan dan ada niatan untuk menjalani syarat- syarat untuk memperolehnya.

Wahyu menempati orang sesuai karakternya.
Yang berkarakter pemimpin, akan memperoleh wahyu pamong dan pendito.
Yang agresif dan berani membela kebenaran akan memperoleh wahyu satrio.

Wahyu mencari jiwa yang bersih, tulus dan amanah.
Werkudoro yang sangat hebat saja pernah gagal memegang wahyu ini. Suatu ketika, Werkudoro memperoleh Wahyu Ratu (wahyu satrio tapi level tertinggi). Wahyu Ratu tetap mau menetap asal Werkudoro tidak mampir kemanapun dan langsung pulang setelah menerima wahyu. Di tengah jalan, bertemulah dengan Kresna.
Kresna mengatakan:"Ayo, mampir nggone sedulurmu, wong dee arep babaran".
Dijawab Werkudoro: "Ora gelem, aku nggowo wahyu".
Kresna berkata lagi:"Ayo, babaran ki taruhan nyowo, kowe ora mesakne sedulurmu?"
Dijawab Werkudoro:"Yo wis, nek ngono tak mampir sedelo"
Karena tidak langsung pulang, akhirnya wahyu ratu keluar dan masuk ke dalam janin saudarinya.

Hikmah: Werkudoro yang sehebat itu saja tidak mampu mengemban Wahyu Ratu. Maka, diperlukan perjuangan yang lebih besar.

Yang sedikit ini semoga ada manfaatnya.
Shadaqallahul'adzim
Wallahu a'lam bish-shawab
Wabillahi taufiq walhidayah wassalamuala mursalin walhamdulillahirabbil alamin


Wassalamu'alaikum Wr Wb

No comments: