Sunday, August 11, 2013

RENUNGAN Jilid 1: Solusi Kisruh Pakualaman

RENUNGAN Jilid 1: Solusi Kisruh Pakualaman

Assalamu'alaikum Wr Wb
Alhamdulillahirobbil alamin.
Wassholatu Wassalamu 'ala ashrofil anbiya' i wal mursalin, sayyidina Muhammadin Wa'ala alihi Washohbihi ajma'in. Ama ba'du.
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena limpahan karunianya.
Shalawat serta salam kepada Rasulullah Muhammmad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh
pengikutnya.

Salam sejahtera bagi kita semua.

Mohon maaf sebelumnya kepada para alim ulama semua.
Tulisan ini terutama untuk diri saya pribadi. Sekiranya ada yang berkenan, penulis berterima kasih sekali. Jika ada perbedaan pendapat, mohon maaf sebelumnya.

Sebelum acara pelantikan Gubernur dan Wakil Gurbernur di Alun- alun utara, ada yang pernah menyampaikan solusi tentang kisruh raja kembar Pakualam IX, yaitu:
  1. Sri Sultan harus turut campur dalam penyelesaian sengketa karena Pakualam juga keluarga Keraton.
  2. KPH Ambarkusumo supaya memberikan "ra ketang secuil permen nggo KPH Anglingkusumo".
  3. KPH Anglingkusumo, kudu sabar, InsyaAllah bakal munggah (oleh berkah) wong seng nembe terdzalimi. Nek ora njenengan, yo anak turunmu.
Tetapi, karena buah pemikiran+pendapat+tingkat spiritual masing- masing yang berbeda dan mungkin karena kurang percaya kepada yang mengingatkan, Kisruh ini belum juga terselesaikan.

Alhamdulillah, berkat sedikit doa dari sang pengingat (mungkin, efeknya hanya 0,0000001%) dan ditambah doa seluruh rakyat Yogya, hal yang kurang bagus dapat dihindari. Rencana pelantikan yang menghabiskan dana besar, berangsur- angsur menurun dan pelantikan dipindah ke Gedung Agung. Dana menurun, karena tidak pantas ada pihak yang baru menderita malah ada yang bersenang- senang di atas penderitaan orang lain. Kemudian lokasi pelantikan dipindah, maka keamanan sangat terjaga. Sudah tercium sejak lama bahwa banyak pihak yang menginginkan Yogya tidak tentram, dan memanfaatkan situasi ini. Apabila pelantikan di Alun- alun, maka perusuh bisa membaur pura2 menonton kemudian membuat kerusuhan. Kalau di gedung agung, dengan penjagaan ketat maka hal ini dapat dihindari.

Andai saja.
Andai saja permasalahan ini tidak berlarut- larut dan selesai sebelum kasus cebongan.
Andai saja, pihak- pihak yang berkepentingan lebih mau mendengarkan.
Andai saja para guru dari ketiga pihak tidak meremehkan si pengingat: "Ojo kabeh omongane wong tuwo digugu".
Meskipun hati sangat sakit.....tetapi kita berlapang dada, tetap mengambil sisi positifnya.
Mungkin, kasus cebongan tidak perlu terjadi. Tidak perlu salah satu pihak menyewa Dicky CS untuk pengamananya, tidak perlu saling bertengkar. Tidak perlu Paksi Katon mengusir orang tua dari Pihak KPH Anglingkusumo yang akan menyampaikan pendapat di depan gerbang Puro Pakualaman. Apa salahnya didengarkan? Kami jadi berfikir, orang hebat saja diusir seperti itu, apalagi hanya kami rakyat jelata yang ingin menyampaiakan pendapat.

Hikmah:
  1. Jabatan merupakan amanah, bukan hak, dengarkanlah pendapat rakyatmu, dengarkanlah pendapat keluargamu. Jangan menyimpulkan dulu sebelum digali secara mendalam.
  2. Dari: Andai saja para guru dari ketiga pihak tidak meremehkan si pengingat: "Ojo kabeh omongane wong tuwo digugu". Para guru seharusnya memberi arahan yang baik. Apakah guru yang baik yang suka meremehkan orang lain? Apakah njenengan tidak turut berdosa dengan kasus Cebongan? salah satu penyebabnya adalah kalian yang tidak mau menyampaikan kebenaran untuk selalu mendengarkan. Kuping ki 2, tutuk ki 1. Luwih akeh seng mbok nggo kudune kuping, yaiku nggo ngrungokne. Guru2 disini cenderung mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tidak mau kalah dari pihak lain. Sedangkan,  ilmunya belum dikaji lebih dalam. Umpomo ngrasa ilmune duwur, wis rumangsa bener dewe yo mbok melu nandangi (Baca http://pokokilmu.blogspot.com/2013/06/assalamualaikum-wr-wb-wassholatu.html). Ra gor meneng, trus nek ono seng arep nandangi malah dicegah, malah dielek2.
  3. Dari kasus cebongan, hikmah positifnya adalah dengan mulai diberantasnya preman. tetap saja, apakah mengingatkan harus dengan kekerasan? Harus dengan pembunuhan? Bukan dengan pemahaman yang baik?
  4. KPH Anglingkusumo: Nek berkas penting yo ojo dititipke uwong. Serahke dewe neng nggone seng berhak. Kudu isoh milah endi seng penting, endi seng udu. Konco, suatu saat isoh dadi lawan, akeh musuh dalam selimut 
Prediksi: 
  1. Setelah mendengar dan tahu bahwa dulu, tidak jadinya KPH Anglingkusmo menjadi Wakil Gubernur adalah karena  tidak amanahnya salah satu orang yang dititipi berkas pencalonan sehingga tidak disampaikan kepada Sekretariat pencalonan, maka InsyaAllah, kebenaran akan muncul, minimal akan diberi hak untuk bertarung secara fair dengan KPH Ambarkusumo. Sebetulnya ini sudah sesuai solusi awal: KPH Anglingkusumo, kudu sabar, InsyaAllah bakal munggah (oleh berkah) wong seng nembe terdzalimi. Nek ora njenengan, yo anak turunmu. 
  2. InsyaAllah, kelak Yogya akan dipimpin oleh Sultan yang berspiritual tinggi sekelas HB I dan HB IX. InsyaAllah. Ini adalah doa, semoga menjadi kenyataan.
 Saran dan Doa, semoga suatu saat terwujud:
 KPH Ambarkusumo dan KPH Anglingkusumo, bertarunglah secara fair, jangan mengorbankan bawahan dan rakyat jelata. Di pewayangan, yang maju paling depan adalah Pandawa dan para Ksatria. Saran penyelesaian:
  1. Lomba catur seperti zaman Kurawa dan Pandawa.
  2. Lomba melewati ringin kembar.
  3. Lomba memegang senjata kraton, kuat siapa.
  4. Lomba puasa/ meditasi. 
  5. Lomba ketangkasan/ tarung terbuka.
  6. dll
  7. Gantian memimpin periode ttt. Misalnya 5 tahunan.
  8. Menikahkan anak dari kedua belah pihak.


Yang sedikit ini semoga ada manfaatnya.
Shadaqallahul'adzim
Wallahu a'lam bish-shawab
Wabillahi taufiq walhidayah wassalamuala mursalin walhamdulillahirabbil alamin

Wassalamu'alaikum Wr Wb

No comments: